Laman

Senin, 14 Oktober 2013

Penghuni Negeriku Begitu "Lucu"

Pagi ini tidak sengaja menemukan channel TV yang sedang menyiarkan program berita pagi, sontak membuat mata Saya melek dari kantuk...
Ya...Highlight-nya adalah...
"Penjualan Mobil Murah Nasional Ramah Lingkungan (LCGC) Meningkat 13,54%"
Peningkatan itu senilai 11 ribu-an unit mobil...Jumlah yang tidak sedikit memang.
Mobil LCGC (Low Cost Green Car) Program yang diklaim pemerintah sebagai mobil murah dan ramah lingkungan tengah jadi primadona negeri ini. Mobil-mobil tersebut dibanderol pada rentang harga Rp 80 juta hingga Rp 200 juta.

Sekarang, kita akan mulai jabarkan satu persatu dari Highlight tersebut..check it out!!!

Murah 
Meski dibanderol dengan harga yang relatif lebih murah dari mobil biasa, namun ternyata fasilitas mobil seperti AC, radio type, dan beberapa fasilitas lain belum terpasang lengkap, artinya pengguna nantinya tetap akan merogoh kocek agak dalam untuk melengkapi fasilitas mobil tersebut. Sama saja bukan? Setelah ditambah dengan fasilitas tersebut maka akan didapatkan hasil akhir yang sama harganya dengan yang biasa. Dan faktanya, konsumen mobil tersebut ya lagi-lagi kalangan menegah ke atas. Bak Shopping Time saja bagi mereka..hehe.


Nasional
Inilah yang paling menggelitik. Nasional dari mana? meski diproduksi di dalam negeri namun lisensi tetap berada di tangan asing. Meski peningkatan penjualan mobil murah ini memberikan keuntungan bagi pabrik perusahaan yang ada di Indonesia, namun nominalnya tidak seberapa, dan tidak begitu berdampak untuk semua masyarakat Indonesia pada umumnya. Lebih baik mengeluarkan modal besar untuk mendukung mobil buatan dalam negeri agar dapat lulus uji emisi sehingga dapat diproduksi dan dikonsumsi bangsa sendiri dari pada mendatangkan mobil yang "murah" tapi lisensi luar negeri.


Ramah Lingkungan 
Dikatakan ramah dari mana? justru ini dipastikan akan menambah konsumsi BBM bersubsidi. PT Pertamina (Persero) memperkirakan potensi kenaikan konsumsi BBM bersubsidi seiring dengan penambahan jumlah mobil. Belum lagi masalah kemacetan khususnya di daerah Ibu Kota yang mana Pemerintah setempat sedang giat-giatnya mengatasi permasalahan bebuyutan tersebut salah satunya dengan membersihkan lapak-lapak pasar kemudian dilakukan relokasi serta pembuatan monorail kereta api yang diharapkan meningkatkan animo masyarakat untuk menggunakan transportasi umum, sehingga volume kendaraan pribadi dapat terkendali. Namun, program mobil LCGC ini justru akan menambah PR lama yang belum terselesaikan.



Tidak berselang lama setelah menonton berita tersebut, Saya juga membaca beberapa artikel dari situs berita online. Di dalamnya menguak pendapat beliau para petinggi. Dan herannya beliau-beliau justru mendukung penuh program tersebut dengan alibi pemerataan kesejahteraan, dalam artian masyarakat kecil agar bisa merasakan bergaya hiudp layaknya para kelas atas dengan membeli mobil murah tersebut. Entah...apa yang ada di pikiran beliau-beliau. Saya tak habis pikir, apa mungkin hanya Saya si lulusan D3 yang tidak (akan pernah) mengerti dengan jalan pikiran beliau yang (Saya yakin) lulusan S3.
"Maaf Pak, yang kita butuhkan bukan mobil murah. Namun yang sangat kita butuhkan adalah pangan, sandang, papan dan pendidikan murah. Itu lebih krusial dan mendesak bagi kami dibandingkan keinginan memiliki mobil murah yang Anda-anda tawarkan".

Lihatlah betapa "lucu" nya penghuni negeriku...Andai negeriku bisa bicara...lengkap dengan bumi, air dan udara mereka pasti akan geleng-geleng kepala seperti Saya... haha...
Dan lagi-lagi judulnya adalah "Dari Mereka Untuk Mereka"...sama sekali berbanding terbalik dengan semboyan kedaulatan rakyat "Dari Kita Untuk Kita (Masyarakat)".
 "let's do the best to our INDONESIA" 
^_*

Rabu, 04 September 2013

Dari China hingga Amerika (Nasi vs Mie & Roti)

China (RRC) yang kita kenal sebagai negara terpadat (penduduknya) di dunia yaitu sekitar 1,3 milyar yang mayoritas penduduknya merupakan suku bangsa Han. RRC juga menyandang predikat sebagai negara terbesar di Asia Timur, dan ketiga terluas di dunia, setelah Rusia dan KanadaPerkembangan ekonomi Cina diyakini sebagai salah satu yang tercepat di dunia, sekitar 7-8% per tahun menurut statistik pemerintah Cina. Ini menjadikan Cina sebagai fokus utama dunia pada masa kini dengan hampir semua negara, termasuk negara Barat yang mengkritik Cina, ingin sekali menjalin hubungan perdagangan dengannya. Di sini kita akan belajar dari taktik cerdas China dalam menumbuhkembangkan ekonomi negaranya. Dalam postingan kali ini Saya akan mengutip tulisan dari beberapa situs sebagai bahan rujukan utama.
Tahukah kita bahwa 30 tahun lalu GDP per kapita di China hanya sekitar US$ 400, kini di kisaran US$ 5,400. Tidak terlalu tinggi memang, tetapi perlu diingat bahwa ini untuk negeri dengan penduduk 1,3 milyar. Artinya ada pergerakan peningkatan kemakmuran yang masif untuk begitu banyak orang hanya dalam tiga dasawarsa. China juga terkenal dengan cadangan emasnya yang sangat tinggi (diikuti India di No.2). Mereka membiayai pertumbuhannya bukan dengan hutang sebagaimana banyak dilakukan oleh negara-negara lain yang ingin membangun kekuatan ekonominya, namun dengan taktik cerdas yang sebenarnya kita pun seharusnya lebih bisa melakukannya.

Sekitar 30 tahun lalu ada perubahan sikap besar-besaran di China dari rakyat yang penghasilan rata-ratanya masih US$ 400 saat itu. Perubahan itu adalah mereka berhemat, mengkonsumsi hanya sekitar 30 % penghasilannya, menyimpan 35% dan yang 35% sisanya diinvestasikan. Mereka berubah dari orientasi hidup untuk saat ini, menjadi untuk masa depan. Mereka komunis, tidak berharap adanya kehidupan setelah kematian – itupun bersedia berkorban untuk kehidupan masa depan – dan mereka sukses untuk apa yang mereka lakukan. Jika ditelisik taktik tersebut mirip dengan prinsip 1/3 yang pernah ditulis oleh Bapak Muhaimin Iqbal (Pemilik Gerai Dinar) dalam salah satu website-nya.
Prinsip 1/3 untuk umat Islam mestinya bisa lebih dari apa yang dilakukan oleh rakyat China. Dengan mengkonsumsi 1/3 dari penghasilan kita, menginfaqkan 1/3-nya dan 
menginvestasikan 1/3-nya. Inilah keseimbangan dalam Islam. Sepertiga yang dikonsumsi adalah agar kita bisa hidup layak saat ini, 1/3 yang diinvestasikan adalah untuk masa depan kita dan anak-anak kita  dan 1/3 yang diinfaqkan adalah untuk kehidupan abadi kelak kita setelah mati






There is a will, There is a way... 
Ya...tidak ada yang sulit dilakukan dan pasti ada jalan jika sudah ada niat kuat dan berani melakukan awal dari sebuah proses demi hasil yang Insya Allah kita harapkan untuk kemaslahatan umat. Hidup itu akan sempurna jika tercipta keseimbangan, seperti Yin dan Yang (Filosofi China), seperti neraca (balance sheet) dalam akuntansi dan yang terpenting adalah "Keseimbangan" merupakan salah satu tujuan dari Maqasid Syariah (Keadilan dan Keseimbangan) yang patut dijunjung tinggi demi kemaslahatan. Kalau China bisa kenapa Kita sebagai rakyat Indonesia pada umunya dan umat muslim pada khususnya tidak bisa? Jawabannya adalah "SANGAT BISA".

Untuk Indonesia, mungkin mulai belajar dari segi ekonomi seperti mengurangi impor dan hutang yang kemudian diarahkan ke investasi salah satunya adalah menambah cadangan emas untuk mem-back up kebutuhan negara. Seperti yang kita tahu meskipun China termasuk negara penghasil emas terbesar di dunia, tapi hasil produksinya dipenjara di negara sendiri yang disimpan untuk cadangan moneter. Jika kita mau berkaca, Indonesia sebenarnya tidak kalah hebat, Indonesia sendiri mempunyai tambang emas terbesar di dunia yaitu Freeport yang berlokasi di Papua. Namun sayang disayang, Indonesia nampaknya hanya sebagai lokasi, karena kepemilikannya kini di bawah kekuasaan imperialis Amerika. Ya...bisa dibilang "Terjajah di negeri sendiri".

Penguasa negeri ini sejak lama memang tidak punya nyali untuk menindak Freeport. Dalam soal royalti dan dividen mereka membungkuk saja di hadapan perusahaan Amerika ini. Freeport hanya memberikan royalti 1% dari hasil penjualan emas dan 3,75 % masing-masing untuk tembaga dan perak. Kewajiban yang terbilang sangat rendah dibanding keuntungan yang dikantongi Freeport. Kontrak Karya Freeport Indonesia di tambang Garsberg akan habis pada 2021. 
Selain berani menolak tawaran royalti, Freeport juga tidak takut menunggak pemberian dividen ke negara yang  memiliki 9,36 persen saham Freeport Indonesia. Tahun lalu saja, dari kewajiban memberi dividen Rp 1,5 triliun, setoran Freeport kurang Rp 350 miliar. Yang paling miris adalah saudara kita di Papua sebagai tuan rumah tak sedikit justru menjadi buruh mereka. Herannya, Freeport juga masih mendapat kesempatan memperpanjang kontrak dua kali 10 tahun setelah durasi kontrak pertama, 30 tahun, berakhir. Freeport mendapatkan hak kelola tambang di Mimika pada 1991. Saat ini, cadangan emas milik PT Freeport Indonesia di Papua mencapai 67 juta ounce atau sekitar 1.899 ton (1 ounce = 28,35 gram). Tambang emas ini bakal digarap hingga 2042. Dari data Freeport yang dikutip Rabu (24/4/2013), cadangan tersebut berupa bijih nilainya 2,5 miliar ton. Untuk emas sekitar 67 juta ounce, sementara peraknya mencapai 33 juta ounce. Cadangan ini didapat dari beberapa tambang Freeport, antara lain DOZ (Deep Ore Zone), Deep MLZ, Big Gossan, Grasberg Bloc Cave, dan Kucing Liar. 


Entah karena ketidak PD-an atau bahkan kebodohan oknum tertentu sehingga Indonesia tekesan miris. Oleh karena itu kia sebagai generasi muda penerus bangsa-lah yang akan merubahnya...membuang kebodohan, dan menindak penjajahan modern hingga kita menjadi Raja (setidaknya) di negeri kita sendiri dengan "memiliki" dan "menikmati" kekayaan alam bumi pertiwi yang kita cintai. China dan Amerika saja bisa menjadi penguasa... Indonesia PASTI LEBIH BISA !!! karena Pemakan "Nasi" harus lebih kuat dari pemakan "Mie" dan " Roti". Bekal niat, ilmu, do'a, iman dan LAKSANAKAN !!! ^_*
- Henchan -

Rabu, 24 Juli 2013

Ketika ke-alay-an melanda dunia maya

pusing nich...
aduh telat sahur...
makan dulu agh...
capek banget abis kerja...HUFT!!!
yah...tanganku berdarah....
aduh ...kepleset..lecet-lecet (emoticon 'nangis')
dkk..

Kalimat-kalimat di atas sering kita jumpai dalam status-status di jejaring sosial seperti Facebook, Twitter, BBM, Whatsapp dan aplikasi jejaring sosial lainnya. Status pada dasarnya ditujukan untuk berbagi. Ada yang menggunakannya untuk berbagi informasi, hobi hingga berbagi pengalaman pribadi. Namun fenomena yang terjadi adalah banyak dari pengguna jejaring sosial menggunakannya untuk berbagi hal-hal pribadi yang sekalipun orang tahu pun tidak ada manfaat alias tidak penting. Seperti contoh status di atas yang hanya berisi "curhat" yang dinilai kurang penting. Mengumbar kehidupan pribadi ke dunia maya (yang sebenarnya lebih luas dari dunia nyata) adalah tindakan yang kurang bijaksana. Mungkin tidak semua orang atau teman akan berkomentar namun akan banyak orang yang akan membaca status-status tersebut dan pada akhirnya akan menimbulkan banyak spekulasi mengenai diri kita. Hingga orang yang sama sekali belum pernah mengenal bahkan melihat kita pun akan dapat menyimpulkan siapa dan bagaimana karakter kita dalam sekejap. Ada lagi...

lagi ngantri  -di ATM ***...
shopping dulu -di Mall ***...
ngantri -di RS *** ...
lagi nyervis motor -di ***...

Ya...ya..ya... selain mengandung unsur "curhat", status-status di atas akan menimbulkan "bahaya". Secara terang-terangan kita telah menunjukkan tempat dimana kita tengah berada. Selain tidak penting dan terkesan pamer, status tersebut bukan tidak mungkin akan mengundang hal-hal yang tidak diinginkan. Bukan bermaksud berpikiran negatif, namun di zaman sekarang kita perlu menerapkan sikap waspada dari hal-hal yang tidak diinginkan. Misalnya, pada status "lagi ngantri  -di ATM ***...", status tersebut dinilai sangat berbahaya, bisa saja ada pihak yang tidak segan-segan menguntit kita dan melakukan tindakan di luar keinginan kita seperti merampok/merampas uang yang kita ambil dari mesin ATM tersebut. Itulah mengapa timbul ungkapan "kejahatan datang karena ada kesempatan". Memang itu yang terjadi, tak sedikit orang yang sudah mengalaminya akibat status "kurang penting" alias status alay tersebut.

Selain status-status tersebut, ada juga status yang terkesan menyinggung seseorang atau kelompok secara terang-terangan seperti kritikan pedas dengan menyebutkan nama seseorang atau suatu kelompok hingga pendapat pribadi yang terkesan menyalahkan sesuatu, seseorang atau kelompok. Status seperti itu yang akan menimbulkan kesenjangan, rasa tidak suka, bahkan perpecahan. Berpendapat boleh-boleh saja, asalkan tidak mengandung unsur menyalahkan, tidak suka dan lain-lain yang dapat menyinggung pihak lain.

"Statusmu Harimau-mu"
Nampaknya ungkapan ini perlu kita perhatikan, karena apa yang kita tulis dalam status-status kita pada akhirnya akan menunjukkan siapa diri kita sebenarnya di mata khalayak dunia maya yang nyatanya benar-benar ada. Sebaiknya mulai sekarang kurangi status-status alay, ganti dengan status yang lebih bermanfaat seperti sharing informasi mengenai agama, pendidikan, tips-tips dan lain-lain yang lebih pantas dan penting untuk dibaca khalayak ramai. Jejaring sosial digunakan sebagai hiburan itu sah-sah saja namun apabila kita tidak bisa menahan untuk menggambarkan apa yang sedang terjadi dan apa yang sedang kita rasakan, paling tidak kita perlu mengendalikannya dengan mensiasati menuliskan status menggunakan kalimat-kalimat yang sederhana dan bias agar tidak terkesan 'vulgar'.
Maaf, postingan ini tidak ada maksud untuk menyinggung bahkan menyalahkan pihak-pihak tertentu. Tulisan ini dibuat untuk menggambarkan fenomena yang marak terjadi di jejaring sosial saat ini sekaligus introspeksi bersama agar ke depannya kita dapat menggunakan jejaring sosial dengan lebih bijaksana. Terimakasih ^_*

Jumat, 01 Februari 2013

Ketika Hati Tidak Sejalan dengan Tangan dan Kaki (Prinsip VS Situasi)

     Tulisan Saya kali ini masih berkaitan dengan postingan sebelumnya namun kali ini memang sedikit berbeda. Tidak jauh-jauh dari lingkup prinsip hidup. Seperti yang kita tahu hidup kadang tidak selalu berjalan sesuai keinginan kita. Sebenarnya jika kita jeli, itu adalah output dari hati, otak, tangan dan kaki kita. Dalam artian pedomannya sudah ada di hati namun operatornya adalah otak untuk kemudian diteruskan kedalam bagian pelaksanaan yaitu tangan dan kaki untuk proses eksekusi. Namun di tengah perjalanan terkadang maksud atau informasi yang dikirimkan hati ke otak tidak menemukan titik temu, sehingga proses eksekusinya pun tidak berjalan sesuai yang diinginkan oleh komando utama yaitu hati. Bukan berarti terjadi pembangkangan oleh tangan dan kaki, namun ada faktor X yang secara tidak langsung mempengaruhi bahkan mencekal perintah dari hati ke otak sehingga sampainya ke tangan dan kaki pun tidak selaras. Ya...Faktor X tersebut adalah Situasi atau Kondisi. Memang hal ini merupakan faktor eksternal namun dampaknya bisa langsung ke lingkup internal dan output-nya.
       Prinsip yang tersimpan dalam hati dan dipertahankan dalam naluri tidak sanggup membendung kehadiran situasi, itulah yang terjadi. walau output-nya tidak selalu salah namun efeknya akan timbul gejolak dalam hati. Harap digaris bawahi ini bukan bahasa alay namun ini kebenaran. Sesuatu yang kita tahu dan kita jadikan prinsip hidup akan dengan mudah dihalau sehingga apa yang kita lakukan sekarang sebenarnya bukan keinginan hati yang terdalam. Kita sebenarnya tahu bahwa itu tidak benar, tidak sesuai dengan yang kita inginkan bahkan beberapa hal yang terkait itu menyalahi aturan baik secara sosial maupun ajaran agama. Lalu salah siapa? Apakah salah hati yang tidak bisa meneguhkan pendirian? Apakah salah otak yang slaah mengkomunikasikan ke bagian pelaksana? Atau salah tangan dan kaki dalam mengeksekusi? Bukan...bukan itu. Dalam hal ini seharusnya ada komitmen yang kuat, ada tali yang kuat agar ketiga bagian tersebut dapat berjalan secara berkesinambungan. Paling tidak pada proses eksekusi tidak terlalu membuat hati bergejolak. Nah...selanjutnya langkah apa yang perlu diambil? Untuk mensikronkan bagian-bagian tersebut, maka yang pertama adalah adanya elastisitas hati untuk menerima situasi. Dalam hal ini maksudnya adalah kita perlu membentengi hati dengan sistem filterisasi. Artinya tidak semua informasi dari faktor X tersebut kita terima yang pada akhirnya akan menimbulkan gejolak. Namun setidaknya ada langkah pencegahan. Bahwa sistem hati kita akan berjalan otomatis, apabila situasi kontra dengan hati maka langsung tekan tombol NO (dengan catatan sudah dalam tahap filterisasi informasi). 
       Banyak yang setuju dengan ungkapan "Hidup adalah pilihan" dan pilihan itulah yang sebenarnya kita pilih sendiri dengan mempertimbangkan baik buruknya. Ingat!!! Hidup selalu ada pilihan. Mungkin kita sering mengatakan "No more choice" sebenarnya bukan tidak ada pilihan lain, tapi kita tidak ada keinginan untuk mencari pilihan lain itu yang mungkin lebih baik dan bisa kita pilih. Lagi-lagi keimanan dibutuhkan dalam hal ini. Tidak sekadar mempunyai prinsip, namun prinsip juga perlu benteng yang kuat yaitu Iman. Dengan prinsip yang teguh dan iman yang kuat, Insya Allah akan ada kesinambungan antara hati, otak, tangan dan kaki agar hidup merasa nyaman lahir dan batin.

Senin, 21 Januari 2013

Ketika Lidah Menjilat Ludah



"Lidah Tak Bertulang"...Ungkapan ini tak terbantahkan hingga akhir zaman. Secara denotasi jelas....bentuk lidah memang tak bertulang sehingga bisa bergerak dengan fleksibel dalam membantu poses pengunyahan makanan lengkap dengan kandungan enzim sebelum masuk ke dalam proses pencernaan di dalam tubuh hingga peran lidah dalam sistem pengucapan. Secara konotasi...juga tidak salah. Hal ini berkaitan dengan ucapan. Manusia dapat berbicara salah satunya karena keberadaan lidah, sehingga manusia dapat berucap apapun sesuai kehendaknya. Baik buruknya ucapan juga mencerminkan karakter dan prinsip seseorang.
Selain itu ucapan sendiri dianggap sebagai do'a, oleh karena itu diharapkan kita sebagai manusia mengucapkan hal-hal yang baik (saja). Namun nyatanya...lagi-lagi manusia tempatnya salah dan dosa, terkadang apa yang kita katakan tidak sesuai dengan kenyataan, yang ada justru "membunuh" prinsip yang telah dibuat. Dengan mudah mengucap hal-hal yang idealis namun kenyataannya tidak dapat memegang bahkan menjilat ludahnya sendiri dalam artian tidak mengimplementasikan serta mensinkronkan antara ucapan dan perbuatan. Sungguh ironis sebenarnya, alibi "manusiawi" memang sah-sah saja, namun tidak ada salahnya jika kita "paling tidak" dapat mensinkronkan "lidah" dengan "tangan+kaki". Meneguhkan prinsip dengan hati, ucapan dan perbuatan. Bukan menjadi munafik yang berkepanjangan yang nantinya akan menjadi boomerang dalam diri kita sendiri dan meskipun lagi-lagi lidah tak bertulang namun terkadang dapat menyakiti hati seseorang.
“Apabila dia ingin berbicara hendaklah berpikir dulu. Bila jelas maslahatnya maka berbicaralah, dan jika dia ragu maka janganlah dia berbicara hingga nampak maslahatnya.” (Al-Adzkar hal. 284)"

Maka dari itu, mulai dari sekarang dan tentunya mulai dari diri kita sendiri. Tidak perlu gembar-gembor mengenai idealisme hidup dan prinsip hidup. Tidak perlu menegaskan ke orang lain bahwa itu yang menjadi prinsip kita (cukup kita sendiri yang tahu) karena yang berlaku di dunia dan di akhirat nanti adalah realita yang diwakilkan oleh tangan dan kaki kita, bukan bualan yang keluar dari mulut kita. Dan kembali lagi kepada alibi "manusiawi", karena masih banyak kemungkinan untuk menyalahi prinsip kita sendiri, maka (sekali lagi) mulai detik ini dan diri kita sendiri kita harus berucap yang benar dengan benar. Ucapan adalah do'a dan "mulutmu adalah harimaumu". Berusaha mengatakan hal yang sesuai dengan perbuatan lebih "manusiawi" dari pada mengatakan hal yang serba idealis namun realitanya minimalis. Semoga kita semua bukan termasuk ke dalam golongan orang-orang munafik, semoga kita dapat meneladani sifat dan perbuatan Rasulullah dan tentunnya mengamalkannya demi kemaslahatan bersama dan yang paling penting adalah kita dapat menjaga lisan kita agar nantinya dapat direalisasikan dengan perbuatan serta dipertanggungjawabkan.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda dalam hadits dari Sahl bin Sa’d radhiallahu 'anhu: “Barangsiapa yang menjamin untukku apa yang berada di antara dua rahangnya dan apa yang ada di antara dua kakinya (kemaluan) maka aku akan menjamin baginya al-jannah (surga).” (HR. Al-Bukhari no. 6088)

Kamis, 17 Januari 2013

Si-Mindset "SUSAH bukan berarti SULIT"


      Ini masalah Hidup, Hidup tidak hanya berisi keindahan, kesukaan, keinginan, namun juga kesusahan (dan teman-temannya). Itulah "Ying" dan "Yang" kehidupan. Prinsip ataupun Pola Pikir (Mindset) juga ikut andil dalam Hidup. Memiliki Prinsip berarti memiliki keteguhan (itu jika benar-benar diimplementasikan). Banyak pasangan putus bahkan cerai (yang katanya) karena perbedaan prinsip. Maka tak heran di kalangan banyak orang prinsip dipandang istimewa, karena itu pedoman yang akan menggambarkan karakter dan tingkah laku dari seseorang dalam menjalani hidupnya. Selain Prinsip ada juga Mindset, keduanya serupa tapi tak sama. Sama-sama berasal dari diri, namun jika kita resapi, "Prinsip" itu datang dari "Hati" sedangkan "Mindset" datangnya dari "Otak". Apakah Anda setuju???
Agak jauh memang...antara letak otak dan hati dalam struktur tubuh manusia. Namun secara spiritual keduanya memiliki korelasi yang kuat. Prinsip merupakan induk dari Mindset, dengan memiliki prinsip yang teguh maka secara tak kasat mata akan tergambar pola pikir di dalam otak kita. Mekanisme keduanya kurang lebih seperti ini, diawali dengan prinsip yang (biasanya) bersifat idealis dan fundamental, selanjutnya akan dikirimkan ke otak untuk digambarkan pola pikir yang nantinya akan melaksanakan misi dari prinsip tersebut.
     Nah...sekarang kita akan membahas mengenai pola pikir atau mindset. Setiap orang pasti memiliki mindset dengan jenis dan cara masing-masing. Mindset sendiri bersifat fleksibel, artinya dapat disesuaikan dengan situasi dan kondisi tanpa menyalahi prinsip. Mindset biasanya telah tertanam lama dalam diri kita sehingga agak susah untuk mengubahnya. Namun Susah bukan berarti Sulit.
     Meskipun untuk mengubah mindset terkadang memerlukan waktu yang tidak sebentar, namun dengan modal niat dan sedikit tekad (bukan nekad) mindset baru akan terbentuk dengan baik. Karena ini menyangkut proses. Tinggal frekuensinya yang dapat disesuaikan dengan “modal” tadi. Maka dari itu jangan takut mengubah mindset sepanjang benar dan tidak mengubah prinsip, karena susah bukan berarti sulit.

Rabu, 09 Januari 2013

Rutinitas Bukan Tanpa Nafas

       "Njuk iku tho sing mbok pengen???"... teringat kalimat sanggahan dari Dosen Spiritual Saya ketika saat itu Saya sempat menjawab pertanyaan beliau mengenai bagaimana kerja dan kuliah Saya dengan nada agak mengeluh. Haha..memang benar..itulah yang Saya inginkan, itulah konsekuensi atas pilihan Saya sendiri, bukan desakan dari manapun, bahkan Ibu Saya saja terserah pada Saya untuk hal itu. Hanya saja beliau-beliau pernah menyarankan kepada Saya agar tetap melanjutkan studi demi impian Saya dan kebetulan klik dengan hati Saya. Yang penting ada niat dan kesempatan...itulah modal awal Saya waktu itu dan semoga sampai nanti tetap istiqamah. امين يا رب العلمين

        Aktivitas Saya tidak berbeda dengan teman yang lain alias standar, pagi kerja - sore kuliah. Yang kata orang "kejar setoran", setoran uang (kerja) dan setoran ilmu (kuliah). Sebenarnya tidak juga, toh justru Saya yang menarik manfaat dari kegiatan tersebut. Hanya saja yang mulai Saya rasakan adalah "sayah" yang kata orang bilang "capek". Lima hari kerja mengejar waktu pulang untuk kuliah, izin pulang cepat agar tepat waktu sampai kampus, sesampainya di kampus tinggal menghela nafas, belum jika masa ujian tiba, seperti nanti sore kebetulan ada responsi mata kulaih Akuntansi Biaya. Kali ini Saya benar-benar mengejar waktu, bukan setoran. Dan begitu seterusnya selama 3 bulan terakhir ini (dan sampai Lulus).

        Bukan motif untuk mengeluh Saya memposting tulisan ini, hanya ingin berbagi pengalaman dan mungkin bisa diambil pelajaran bahwa memang pada dasarnya "Life is Choice". Pilihan yang idealnya kita pilih sendiri dan rasionalnya kita harus bertanggungjawab terhadap pilihan tersebut. Terimakasih banyak untuk Dosen Saya yang sudah mengingatkan kepada Saya bahwa iulah yang Saya inginkan, itulah pilihan Saya dari awal..dan itu artinya tidak seharusnya Saya mengeluh meski itu sangat manusiawi. Justru sebaiknya kita hars bisa menikmati dengan 3D "Dijalani, Dinikmati, Disyukuri". Itulah jurus untuk menyingkirkan jauh-jauh yang bernama "Keluhan". Karena mengeluh berarti kurang bersyukur atas apa yang telah Allah berikan kepada kita. Rutinitas bukan tanpa nafas, segala aktivitas harus dijalankan dengan ikhlas. Toh kerja dan kuliah merupakan Ibadah, yang jika melakukannya kita pasti dapat pahala dari-Nya. Dan manfaatnya pun nanti akan berbalik kepada yang melakukannya dan lingkungan sekitarnya.

        So...mulai sekarang, mulai dari diri sendiri dan mulailah dari yang terkecil..."STOP MENGELUH". Jalani apa yang sudah menjadi pilihan dan menjadi rutinitas, dengan modal nafas dari Sang Maha Pencipta Allah SWT. Insya Allah niat dan pilihan yang baik akan berbuah hasil yang baik pula.