"Lidah Tak Bertulang"...Ungkapan ini tak terbantahkan hingga akhir zaman. Secara denotasi jelas....bentuk lidah memang tak bertulang sehingga bisa bergerak dengan fleksibel dalam membantu poses pengunyahan makanan lengkap dengan kandungan enzim sebelum masuk ke dalam proses pencernaan di dalam tubuh hingga peran lidah dalam sistem pengucapan. Secara konotasi...juga tidak salah. Hal ini berkaitan dengan ucapan. Manusia dapat berbicara salah satunya karena keberadaan lidah, sehingga manusia dapat berucap apapun sesuai kehendaknya. Baik buruknya ucapan juga mencerminkan karakter dan prinsip seseorang.
Selain itu ucapan sendiri dianggap sebagai do'a, oleh karena itu diharapkan kita sebagai manusia mengucapkan hal-hal yang baik (saja). Namun nyatanya...lagi-lagi manusia tempatnya salah dan dosa, terkadang apa yang kita katakan tidak sesuai dengan kenyataan, yang ada justru "membunuh" prinsip yang telah dibuat. Dengan mudah mengucap hal-hal yang idealis namun kenyataannya tidak dapat memegang bahkan menjilat ludahnya sendiri dalam artian tidak mengimplementasikan serta mensinkronkan antara ucapan dan perbuatan. Sungguh ironis sebenarnya, alibi "manusiawi" memang sah-sah saja, namun tidak ada salahnya jika kita "paling tidak" dapat mensinkronkan "lidah" dengan "tangan+kaki". Meneguhkan prinsip dengan hati, ucapan dan perbuatan. Bukan menjadi munafik yang berkepanjangan yang nantinya akan menjadi boomerang dalam diri kita sendiri dan meskipun lagi-lagi lidah tak bertulang namun terkadang dapat menyakiti hati seseorang.
“Apabila dia ingin berbicara hendaklah berpikir dulu. Bila jelas maslahatnya maka berbicaralah, dan jika dia ragu maka janganlah dia berbicara hingga nampak maslahatnya.” (Al-Adzkar hal. 284)"
Maka dari itu, mulai dari sekarang dan tentunya mulai dari diri kita sendiri. Tidak perlu gembar-gembor mengenai idealisme hidup dan prinsip hidup. Tidak perlu menegaskan ke orang lain bahwa itu yang menjadi prinsip kita (cukup kita sendiri yang tahu) karena yang berlaku di dunia dan di akhirat nanti adalah realita yang diwakilkan oleh tangan dan kaki kita, bukan bualan yang keluar dari mulut kita. Dan kembali lagi kepada alibi "manusiawi", karena masih banyak kemungkinan untuk menyalahi prinsip kita sendiri, maka (sekali lagi) mulai detik ini dan diri kita sendiri kita harus berucap yang benar dengan benar. Ucapan adalah do'a dan "mulutmu adalah harimaumu". Berusaha mengatakan hal yang sesuai dengan perbuatan lebih "manusiawi" dari pada mengatakan hal yang serba idealis namun realitanya minimalis. Semoga kita semua bukan termasuk ke dalam golongan orang-orang munafik, semoga kita dapat meneladani sifat dan perbuatan Rasulullah dan tentunnya mengamalkannya demi kemaslahatan bersama dan yang paling penting adalah kita dapat menjaga lisan kita agar nantinya dapat direalisasikan dengan perbuatan serta dipertanggungjawabkan.

