Laman

Senin, 21 Januari 2013

Ketika Lidah Menjilat Ludah



"Lidah Tak Bertulang"...Ungkapan ini tak terbantahkan hingga akhir zaman. Secara denotasi jelas....bentuk lidah memang tak bertulang sehingga bisa bergerak dengan fleksibel dalam membantu poses pengunyahan makanan lengkap dengan kandungan enzim sebelum masuk ke dalam proses pencernaan di dalam tubuh hingga peran lidah dalam sistem pengucapan. Secara konotasi...juga tidak salah. Hal ini berkaitan dengan ucapan. Manusia dapat berbicara salah satunya karena keberadaan lidah, sehingga manusia dapat berucap apapun sesuai kehendaknya. Baik buruknya ucapan juga mencerminkan karakter dan prinsip seseorang.
Selain itu ucapan sendiri dianggap sebagai do'a, oleh karena itu diharapkan kita sebagai manusia mengucapkan hal-hal yang baik (saja). Namun nyatanya...lagi-lagi manusia tempatnya salah dan dosa, terkadang apa yang kita katakan tidak sesuai dengan kenyataan, yang ada justru "membunuh" prinsip yang telah dibuat. Dengan mudah mengucap hal-hal yang idealis namun kenyataannya tidak dapat memegang bahkan menjilat ludahnya sendiri dalam artian tidak mengimplementasikan serta mensinkronkan antara ucapan dan perbuatan. Sungguh ironis sebenarnya, alibi "manusiawi" memang sah-sah saja, namun tidak ada salahnya jika kita "paling tidak" dapat mensinkronkan "lidah" dengan "tangan+kaki". Meneguhkan prinsip dengan hati, ucapan dan perbuatan. Bukan menjadi munafik yang berkepanjangan yang nantinya akan menjadi boomerang dalam diri kita sendiri dan meskipun lagi-lagi lidah tak bertulang namun terkadang dapat menyakiti hati seseorang.
“Apabila dia ingin berbicara hendaklah berpikir dulu. Bila jelas maslahatnya maka berbicaralah, dan jika dia ragu maka janganlah dia berbicara hingga nampak maslahatnya.” (Al-Adzkar hal. 284)"

Maka dari itu, mulai dari sekarang dan tentunya mulai dari diri kita sendiri. Tidak perlu gembar-gembor mengenai idealisme hidup dan prinsip hidup. Tidak perlu menegaskan ke orang lain bahwa itu yang menjadi prinsip kita (cukup kita sendiri yang tahu) karena yang berlaku di dunia dan di akhirat nanti adalah realita yang diwakilkan oleh tangan dan kaki kita, bukan bualan yang keluar dari mulut kita. Dan kembali lagi kepada alibi "manusiawi", karena masih banyak kemungkinan untuk menyalahi prinsip kita sendiri, maka (sekali lagi) mulai detik ini dan diri kita sendiri kita harus berucap yang benar dengan benar. Ucapan adalah do'a dan "mulutmu adalah harimaumu". Berusaha mengatakan hal yang sesuai dengan perbuatan lebih "manusiawi" dari pada mengatakan hal yang serba idealis namun realitanya minimalis. Semoga kita semua bukan termasuk ke dalam golongan orang-orang munafik, semoga kita dapat meneladani sifat dan perbuatan Rasulullah dan tentunnya mengamalkannya demi kemaslahatan bersama dan yang paling penting adalah kita dapat menjaga lisan kita agar nantinya dapat direalisasikan dengan perbuatan serta dipertanggungjawabkan.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda dalam hadits dari Sahl bin Sa’d radhiallahu 'anhu: “Barangsiapa yang menjamin untukku apa yang berada di antara dua rahangnya dan apa yang ada di antara dua kakinya (kemaluan) maka aku akan menjamin baginya al-jannah (surga).” (HR. Al-Bukhari no. 6088)

Kamis, 17 Januari 2013

Si-Mindset "SUSAH bukan berarti SULIT"


      Ini masalah Hidup, Hidup tidak hanya berisi keindahan, kesukaan, keinginan, namun juga kesusahan (dan teman-temannya). Itulah "Ying" dan "Yang" kehidupan. Prinsip ataupun Pola Pikir (Mindset) juga ikut andil dalam Hidup. Memiliki Prinsip berarti memiliki keteguhan (itu jika benar-benar diimplementasikan). Banyak pasangan putus bahkan cerai (yang katanya) karena perbedaan prinsip. Maka tak heran di kalangan banyak orang prinsip dipandang istimewa, karena itu pedoman yang akan menggambarkan karakter dan tingkah laku dari seseorang dalam menjalani hidupnya. Selain Prinsip ada juga Mindset, keduanya serupa tapi tak sama. Sama-sama berasal dari diri, namun jika kita resapi, "Prinsip" itu datang dari "Hati" sedangkan "Mindset" datangnya dari "Otak". Apakah Anda setuju???
Agak jauh memang...antara letak otak dan hati dalam struktur tubuh manusia. Namun secara spiritual keduanya memiliki korelasi yang kuat. Prinsip merupakan induk dari Mindset, dengan memiliki prinsip yang teguh maka secara tak kasat mata akan tergambar pola pikir di dalam otak kita. Mekanisme keduanya kurang lebih seperti ini, diawali dengan prinsip yang (biasanya) bersifat idealis dan fundamental, selanjutnya akan dikirimkan ke otak untuk digambarkan pola pikir yang nantinya akan melaksanakan misi dari prinsip tersebut.
     Nah...sekarang kita akan membahas mengenai pola pikir atau mindset. Setiap orang pasti memiliki mindset dengan jenis dan cara masing-masing. Mindset sendiri bersifat fleksibel, artinya dapat disesuaikan dengan situasi dan kondisi tanpa menyalahi prinsip. Mindset biasanya telah tertanam lama dalam diri kita sehingga agak susah untuk mengubahnya. Namun Susah bukan berarti Sulit.
     Meskipun untuk mengubah mindset terkadang memerlukan waktu yang tidak sebentar, namun dengan modal niat dan sedikit tekad (bukan nekad) mindset baru akan terbentuk dengan baik. Karena ini menyangkut proses. Tinggal frekuensinya yang dapat disesuaikan dengan “modal” tadi. Maka dari itu jangan takut mengubah mindset sepanjang benar dan tidak mengubah prinsip, karena susah bukan berarti sulit.

Rabu, 09 Januari 2013

Rutinitas Bukan Tanpa Nafas

       "Njuk iku tho sing mbok pengen???"... teringat kalimat sanggahan dari Dosen Spiritual Saya ketika saat itu Saya sempat menjawab pertanyaan beliau mengenai bagaimana kerja dan kuliah Saya dengan nada agak mengeluh. Haha..memang benar..itulah yang Saya inginkan, itulah konsekuensi atas pilihan Saya sendiri, bukan desakan dari manapun, bahkan Ibu Saya saja terserah pada Saya untuk hal itu. Hanya saja beliau-beliau pernah menyarankan kepada Saya agar tetap melanjutkan studi demi impian Saya dan kebetulan klik dengan hati Saya. Yang penting ada niat dan kesempatan...itulah modal awal Saya waktu itu dan semoga sampai nanti tetap istiqamah. امين يا رب العلمين

        Aktivitas Saya tidak berbeda dengan teman yang lain alias standar, pagi kerja - sore kuliah. Yang kata orang "kejar setoran", setoran uang (kerja) dan setoran ilmu (kuliah). Sebenarnya tidak juga, toh justru Saya yang menarik manfaat dari kegiatan tersebut. Hanya saja yang mulai Saya rasakan adalah "sayah" yang kata orang bilang "capek". Lima hari kerja mengejar waktu pulang untuk kuliah, izin pulang cepat agar tepat waktu sampai kampus, sesampainya di kampus tinggal menghela nafas, belum jika masa ujian tiba, seperti nanti sore kebetulan ada responsi mata kulaih Akuntansi Biaya. Kali ini Saya benar-benar mengejar waktu, bukan setoran. Dan begitu seterusnya selama 3 bulan terakhir ini (dan sampai Lulus).

        Bukan motif untuk mengeluh Saya memposting tulisan ini, hanya ingin berbagi pengalaman dan mungkin bisa diambil pelajaran bahwa memang pada dasarnya "Life is Choice". Pilihan yang idealnya kita pilih sendiri dan rasionalnya kita harus bertanggungjawab terhadap pilihan tersebut. Terimakasih banyak untuk Dosen Saya yang sudah mengingatkan kepada Saya bahwa iulah yang Saya inginkan, itulah pilihan Saya dari awal..dan itu artinya tidak seharusnya Saya mengeluh meski itu sangat manusiawi. Justru sebaiknya kita hars bisa menikmati dengan 3D "Dijalani, Dinikmati, Disyukuri". Itulah jurus untuk menyingkirkan jauh-jauh yang bernama "Keluhan". Karena mengeluh berarti kurang bersyukur atas apa yang telah Allah berikan kepada kita. Rutinitas bukan tanpa nafas, segala aktivitas harus dijalankan dengan ikhlas. Toh kerja dan kuliah merupakan Ibadah, yang jika melakukannya kita pasti dapat pahala dari-Nya. Dan manfaatnya pun nanti akan berbalik kepada yang melakukannya dan lingkungan sekitarnya.

        So...mulai sekarang, mulai dari diri sendiri dan mulailah dari yang terkecil..."STOP MENGELUH". Jalani apa yang sudah menjadi pilihan dan menjadi rutinitas, dengan modal nafas dari Sang Maha Pencipta Allah SWT. Insya Allah niat dan pilihan yang baik akan berbuah hasil yang baik pula.