China (RRC) yang kita kenal sebagai negara terpadat (penduduknya) di dunia yaitu sekitar 1,3 milyar yang mayoritas penduduknya merupakan suku bangsa Han. RRC juga menyandang predikat sebagai negara terbesar di Asia Timur, dan ketiga terluas di dunia, setelah Rusia dan Kanada. Perkembangan ekonomi Cina diyakini sebagai salah satu yang tercepat di dunia, sekitar 7-8% per tahun menurut statistik pemerintah Cina. Ini menjadikan Cina sebagai fokus utama dunia pada masa kini dengan hampir semua negara, termasuk negara Barat yang mengkritik Cina, ingin sekali menjalin hubungan perdagangan dengannya. Di sini kita akan belajar dari taktik cerdas China dalam menumbuhkembangkan ekonomi negaranya. Dalam postingan kali ini Saya akan mengutip tulisan dari beberapa situs sebagai bahan rujukan utama.

Tahukah kita bahwa 30 tahun lalu GDP per kapita di China hanya sekitar US$ 400, kini di kisaran US$ 5,400. Tidak terlalu tinggi memang, tetapi perlu diingat bahwa ini untuk negeri dengan penduduk 1,3 milyar. Artinya ada pergerakan peningkatan kemakmuran yang masif untuk begitu banyak orang hanya dalam tiga dasawarsa. China juga terkenal dengan cadangan emasnya yang sangat tinggi (diikuti India di No.2). Mereka membiayai pertumbuhannya bukan dengan hutang sebagaimana banyak dilakukan oleh negara-negara lain yang ingin membangun kekuatan ekonominya, namun dengan taktik cerdas yang sebenarnya kita pun seharusnya lebih bisa melakukannya.
Sekitar 30 tahun lalu ada perubahan sikap besar-besaran di China dari rakyat yang penghasilan rata-ratanya masih US$ 400 saat itu. Perubahan itu adalah mereka berhemat, mengkonsumsi hanya sekitar 30 % penghasilannya, menyimpan 35% dan yang 35% sisanya diinvestasikan. Mereka berubah dari orientasi hidup untuk saat ini, menjadi untuk masa depan. Mereka komunis, tidak berharap adanya kehidupan setelah kematian – itupun bersedia berkorban untuk kehidupan masa depan – dan mereka sukses untuk apa yang mereka lakukan. Jika ditelisik taktik tersebut mirip dengan prinsip 1/3 yang pernah ditulis oleh Bapak Muhaimin Iqbal (Pemilik Gerai Dinar) dalam salah satu website-nya.
Sekitar 30 tahun lalu ada perubahan sikap besar-besaran di China dari rakyat yang penghasilan rata-ratanya masih US$ 400 saat itu. Perubahan itu adalah mereka berhemat, mengkonsumsi hanya sekitar 30 % penghasilannya, menyimpan 35% dan yang 35% sisanya diinvestasikan. Mereka berubah dari orientasi hidup untuk saat ini, menjadi untuk masa depan. Mereka komunis, tidak berharap adanya kehidupan setelah kematian – itupun bersedia berkorban untuk kehidupan masa depan – dan mereka sukses untuk apa yang mereka lakukan. Jika ditelisik taktik tersebut mirip dengan prinsip 1/3 yang pernah ditulis oleh Bapak Muhaimin Iqbal (Pemilik Gerai Dinar) dalam salah satu website-nya.
Prinsip 1/3 untuk umat Islam mestinya bisa lebih dari apa yang dilakukan oleh rakyat China. Dengan mengkonsumsi 1/3 dari penghasilan kita, menginfaqkan 1/3-nya dan
menginvestasikan 1/3-nya. Inilah keseimbangan dalam Islam. Sepertiga yang dikonsumsi adalah agar kita bisa hidup layak saat ini, 1/3 yang diinvestasikan adalah untuk masa depan kita dan anak-anak kita dan 1/3 yang diinfaqkan adalah untuk kehidupan abadi kelak kita setelah mati
There is a will, There is a way...
Ya...tidak ada yang sulit dilakukan dan pasti ada jalan jika sudah ada niat kuat dan berani melakukan awal dari sebuah proses demi hasil yang Insya Allah kita harapkan untuk kemaslahatan umat. Hidup itu akan sempurna jika tercipta keseimbangan, seperti Yin dan Yang (Filosofi China), seperti neraca (balance sheet) dalam akuntansi dan yang terpenting adalah "Keseimbangan" merupakan salah satu tujuan dari Maqasid Syariah (Keadilan dan Keseimbangan) yang patut dijunjung tinggi demi kemaslahatan.
Kalau China bisa kenapa Kita sebagai rakyat Indonesia pada umunya dan umat muslim pada khususnya tidak bisa? Jawabannya adalah "SANGAT BISA".
Kalau China bisa kenapa Kita sebagai rakyat Indonesia pada umunya dan umat muslim pada khususnya tidak bisa? Jawabannya adalah "SANGAT BISA".
Untuk Indonesia, mungkin mulai belajar dari segi ekonomi seperti mengurangi impor dan hutang yang kemudian diarahkan ke investasi salah satunya adalah menambah cadangan emas untuk mem-back up kebutuhan negara. Seperti yang kita tahu meskipun China termasuk negara penghasil emas terbesar di dunia, tapi hasil produksinya dipenjara di negara sendiri yang disimpan untuk cadangan moneter. Jika kita mau berkaca, Indonesia sebenarnya tidak kalah hebat, Indonesia sendiri mempunyai tambang emas terbesar di dunia yaitu Freeport yang berlokasi di Papua. Namun sayang disayang, Indonesia nampaknya hanya sebagai lokasi, karena kepemilikannya kini di bawah kekuasaan imperialis Amerika. Ya...bisa dibilang "Terjajah di negeri sendiri".
Penguasa negeri ini sejak lama memang tidak punya nyali untuk menindak Freeport. Dalam soal royalti dan dividen mereka membungkuk saja di hadapan perusahaan Amerika ini. Freeport hanya memberikan royalti 1% dari hasil penjualan emas dan 3,75 % masing-masing untuk tembaga dan perak. Kewajiban yang terbilang sangat rendah dibanding keuntungan yang dikantongi Freeport. Kontrak Karya Freeport Indonesia di tambang Garsberg akan habis pada 2021.
Selain berani menolak tawaran royalti, Freeport juga tidak takut menunggak pemberian dividen ke negara yang memiliki 9,36 persen saham Freeport Indonesia. Tahun lalu saja, dari kewajiban memberi dividen Rp 1,5 triliun, setoran Freeport kurang Rp 350 miliar. Yang paling miris adalah saudara kita di Papua sebagai tuan rumah tak sedikit justru menjadi buruh mereka. Herannya, Freeport juga masih mendapat kesempatan memperpanjang kontrak dua kali 10 tahun setelah durasi kontrak pertama, 30 tahun, berakhir. Freeport mendapatkan hak kelola tambang di Mimika pada 1991. Saat ini, cadangan emas milik PT Freeport Indonesia di Papua mencapai 67 juta ounce atau sekitar 1.899 ton (1 ounce = 28,35 gram). Tambang emas ini bakal digarap hingga 2042. Dari data Freeport yang dikutip Rabu (24/4/2013), cadangan tersebut berupa bijih nilainya 2,5 miliar ton. Untuk emas sekitar 67 juta ounce, sementara peraknya mencapai 33 juta ounce. Cadangan ini didapat dari beberapa tambang Freeport, antara lain DOZ (Deep Ore Zone), Deep MLZ, Big Gossan, Grasberg Bloc Cave, dan Kucing Liar.
Selain berani menolak tawaran royalti, Freeport juga tidak takut menunggak pemberian dividen ke negara yang memiliki 9,36 persen saham Freeport Indonesia. Tahun lalu saja, dari kewajiban memberi dividen Rp 1,5 triliun, setoran Freeport kurang Rp 350 miliar. Yang paling miris adalah saudara kita di Papua sebagai tuan rumah tak sedikit justru menjadi buruh mereka. Herannya, Freeport juga masih mendapat kesempatan memperpanjang kontrak dua kali 10 tahun setelah durasi kontrak pertama, 30 tahun, berakhir. Freeport mendapatkan hak kelola tambang di Mimika pada 1991. Saat ini, cadangan emas milik PT Freeport Indonesia di Papua mencapai 67 juta ounce atau sekitar 1.899 ton (1 ounce = 28,35 gram). Tambang emas ini bakal digarap hingga 2042. Dari data Freeport yang dikutip Rabu (24/4/2013), cadangan tersebut berupa bijih nilainya 2,5 miliar ton. Untuk emas sekitar 67 juta ounce, sementara peraknya mencapai 33 juta ounce. Cadangan ini didapat dari beberapa tambang Freeport, antara lain DOZ (Deep Ore Zone), Deep MLZ, Big Gossan, Grasberg Bloc Cave, dan Kucing Liar.
![]() |
| - Henchan - |


