Laman

Jumat, 01 Februari 2013

Ketika Hati Tidak Sejalan dengan Tangan dan Kaki (Prinsip VS Situasi)

     Tulisan Saya kali ini masih berkaitan dengan postingan sebelumnya namun kali ini memang sedikit berbeda. Tidak jauh-jauh dari lingkup prinsip hidup. Seperti yang kita tahu hidup kadang tidak selalu berjalan sesuai keinginan kita. Sebenarnya jika kita jeli, itu adalah output dari hati, otak, tangan dan kaki kita. Dalam artian pedomannya sudah ada di hati namun operatornya adalah otak untuk kemudian diteruskan kedalam bagian pelaksanaan yaitu tangan dan kaki untuk proses eksekusi. Namun di tengah perjalanan terkadang maksud atau informasi yang dikirimkan hati ke otak tidak menemukan titik temu, sehingga proses eksekusinya pun tidak berjalan sesuai yang diinginkan oleh komando utama yaitu hati. Bukan berarti terjadi pembangkangan oleh tangan dan kaki, namun ada faktor X yang secara tidak langsung mempengaruhi bahkan mencekal perintah dari hati ke otak sehingga sampainya ke tangan dan kaki pun tidak selaras. Ya...Faktor X tersebut adalah Situasi atau Kondisi. Memang hal ini merupakan faktor eksternal namun dampaknya bisa langsung ke lingkup internal dan output-nya.
       Prinsip yang tersimpan dalam hati dan dipertahankan dalam naluri tidak sanggup membendung kehadiran situasi, itulah yang terjadi. walau output-nya tidak selalu salah namun efeknya akan timbul gejolak dalam hati. Harap digaris bawahi ini bukan bahasa alay namun ini kebenaran. Sesuatu yang kita tahu dan kita jadikan prinsip hidup akan dengan mudah dihalau sehingga apa yang kita lakukan sekarang sebenarnya bukan keinginan hati yang terdalam. Kita sebenarnya tahu bahwa itu tidak benar, tidak sesuai dengan yang kita inginkan bahkan beberapa hal yang terkait itu menyalahi aturan baik secara sosial maupun ajaran agama. Lalu salah siapa? Apakah salah hati yang tidak bisa meneguhkan pendirian? Apakah salah otak yang slaah mengkomunikasikan ke bagian pelaksana? Atau salah tangan dan kaki dalam mengeksekusi? Bukan...bukan itu. Dalam hal ini seharusnya ada komitmen yang kuat, ada tali yang kuat agar ketiga bagian tersebut dapat berjalan secara berkesinambungan. Paling tidak pada proses eksekusi tidak terlalu membuat hati bergejolak. Nah...selanjutnya langkah apa yang perlu diambil? Untuk mensikronkan bagian-bagian tersebut, maka yang pertama adalah adanya elastisitas hati untuk menerima situasi. Dalam hal ini maksudnya adalah kita perlu membentengi hati dengan sistem filterisasi. Artinya tidak semua informasi dari faktor X tersebut kita terima yang pada akhirnya akan menimbulkan gejolak. Namun setidaknya ada langkah pencegahan. Bahwa sistem hati kita akan berjalan otomatis, apabila situasi kontra dengan hati maka langsung tekan tombol NO (dengan catatan sudah dalam tahap filterisasi informasi). 
       Banyak yang setuju dengan ungkapan "Hidup adalah pilihan" dan pilihan itulah yang sebenarnya kita pilih sendiri dengan mempertimbangkan baik buruknya. Ingat!!! Hidup selalu ada pilihan. Mungkin kita sering mengatakan "No more choice" sebenarnya bukan tidak ada pilihan lain, tapi kita tidak ada keinginan untuk mencari pilihan lain itu yang mungkin lebih baik dan bisa kita pilih. Lagi-lagi keimanan dibutuhkan dalam hal ini. Tidak sekadar mempunyai prinsip, namun prinsip juga perlu benteng yang kuat yaitu Iman. Dengan prinsip yang teguh dan iman yang kuat, Insya Allah akan ada kesinambungan antara hati, otak, tangan dan kaki agar hidup merasa nyaman lahir dan batin.